Showing posts with label Teori. Show all posts
Showing posts with label Teori. Show all posts

INJEKSI INTRAVENA

Pemberian Injeksi
Memberikan injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan teknik steril. Seteleh jarum menembus kulit muncul resiko infeksi. Perawat memberi obat secara parenteral melalui rute SC, IM, ID, IV. Setiap tipe injeksi membutuhkan ketrampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat. Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat, bergantung pada kecepatan absorbsi obat. Perawat mengobservasi respon klien dengan ketat. (Potter & Perry. 2005)

Peralatan
Ada berbagai spuit dan jarum yang tersedia dan masing-masing didesain untuk menyalurkan obat tertentu ke tipe jaringan tertentu. Perawat berlatih memberi penilaian ketika menentukan spuit atau jarum mana yang akan paling efektif. (Potter & Perry. 2005)

a.    Spuit
Terdiri dari tabung (barrel) berbentuk silinder dengan bagian ujung (tip) didesain tepat berpasangan dengan jarum hipodermis dan alat penghisap (plunger) yang tepat menempati rongga spuit. Spuit secara umum diklasifikasi sebagai Luer-lok atau nonLuer-lok. Nomenklatur ini didasarkan pada desain ujung spuit. Spuit Luer-lok memerlukan jarum khusus, yang melilit naik ke ujung spuit dan terkunci aman ditempat. Desain ini mencegah jarum terlepas karena kurang hati-hati. Spuit nonLuer-lok memerlukan jarum yang dapat langsung terpasang ke ujung spuit. Kebanyakan institusi pelayanan kesehatan menggunakan spuit plastik sekali pakai yang tidak mahal dan mudah dimanipulasi. Spuit dibungkus terpisah dengan atau tanpa jarum steril dalam sebuah bungkus kertas atau wadah plastik yang kaku.
Perawat mengisi spuit dengan melakukan aspirasi, menarik pengisap keluar sementara ujung jarum tetap terendam didalam larutan yang disediakan. Perawat dapat memegang bagian luar badan spuit dan pegangan penghisap. Untuk mempertahankan sterilitas, perawat menghindari objek yang tidak steril menyentuh ujung spuit atau bagian dalam tabung, hub, badan pengisap atau jarum. Spuit terdiri dari berbagai ukuran, dari 0,5 – 60 ml. Tidak lazim menggunakan spuit berukuran lebih besar dari 5 ml untuk injeksi SC atau IM. Volume yang lebih besar menimbulkan rasa tidak nyaman. Spuit berukuran lebih besar disiapkan untuk obat-obatan IV. Spuit insulin berukuran 0,5 – 1 ml dan dikalibrasi dalam unit-unit. Spuit insulin berukuran 0,5 ml dikenal sebagai spuit dosis rendah (50 mikro per 0,5 ml) dan lebih mudah dibaca. Spuit tuberkulin memiliki badan yang panjang dan tipis dengan jarum tipis yang sebelumnya telah dipasang. Spuit dikalibrasi dalam ukuran seperenambelas minims dan seperseratus ml dan memiliki kapasitas 1 mili. Perawat menggunakan spuit tuberkulin untuk menyiapkan obat yang keras dalam jumlah kecil. Spuit tuberkulin digunakan untuk menyiapkan dosis yang kecil dan tepat untuk bayi dan anak kecil. Perawat menggunakan spuit hipodermik berukuran besar untuk memberikan IV tertentu dan menambahkan obat ke dalam larutan IV. (Potter & Perry. 2005)

b.    Jarum
Beberapa jarum tidak dipasang pada spuit ukuran standar. Kebanyakan jarum terbuat dari stainless steel dan hanya digunakan satu kali. Jarum memiliki tiga bagian : hub, yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit; batang jarum (shaft), yang terhubung dengan bagian pusat; dan bevel, yakni bagian ujung yang miring.
Setiap jarum memiliki tiga karakteristik utama : kemiringan bevel, panjang batang jarum, dan ukuran atau diameter jarum. Bevel yang panjang lebih tajam sehingga meminimalkan rasa tidak nyaman akibat injeksi SC dan IM. Panjang jarum bervariasi dari ¼ sampai 5 inci. Semakin kecil ukuran jarum, semakin besar ukuran diameternya. (Potter & Perry. 2005)



Mencegah  Infeksi Selama Injeksi
·         Untuk mencegah kontaminasi larutan, isap obat dari ampul dengan cepat. Jangan biarkan ampul dalam keadaan terbuka.
·         Untuk mencegah kontaminasi jarum, cegah jarum menyentuh daerah yang terkontaminasi (mis. sisi luar ampul atau vial, permukaan luar tutup jarum, tangan perawat, bagian atas wadah obat, permukaan meja)
·         Untuk mencegah spuit terkontaminasi, jangan sentuh badan penghisap (plunger) atau bagian dalam karet (barrel). Jaga ujung spuit tetap tertutup penutup atau jarum.
·         Untuk menyiapkan kulit, cuci kulit yang kotor karena kotoran, drainase, atau feses dengan sabun dan air dan keringkan. Lakukan gerakan mengusap dan melingkar ketika membersihkan luka menggunakan swab antiseptik. Usap dari tengah dan bergerak ke luar dalam jarak dua inci.
(Potter & Perry. 2005)

Pengertian Injeksi Intravena
Memasukkan cairan obat langsung kedalam pembuluh darah vena sehingga obat langsung masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Injeksi dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat dalam waktu 18 detik, yaitu waktu satu peredaran darah, obat sudah tersebar ke seluruh jaringan. Tetapi, lama kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini digunakan untuk mencapai penakaran yang tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat cepat dan kuat. Tidak untuk obat yang tak larut dalam air atau menimbulkan endapan dengan protein atau butiran darah.
Bahaya injeksi intravena adalah dapat mengakibatkan terganggunya zat-zat koloid darah dengan reaksi hebat, karena dengan cara ini “benda asing” langsung dimasukkan ke dalam sirkulasi, misalnya tekanan darah mendadak turun dan timbulnya shock. Bahaya ini lebih besar bila injeksi dilakukan terlalu cepat, sehingga kadar obat setempat dalam darah meningkat terlalu pesat. Oleh karena itu, setiap injeksi intravena sebaiknya dilakukan amat perlahan, antara 50-70 detik lamanya. (tips kesehatan.blog spot)

Tujuan
1.      Memasukkan obat secara cepat
2.      Mempercepat penyerapan obat

Indikasi
1.      Pada seseorang dengan penyakit berat
Pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakkan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS, biaya perawatan, dan lamanya perawatan.
2.      Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral yang terbatas (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut).
Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya “polications” dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal  (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.
3.      Pasien tidak dapat minum karena muntah
Atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangan pemberian melalui jalur lain seperti rectal (usus), sublingual (di bawah lidah), subkutan (di bawah kulit), dan intramuscular (disuntikkan di otot).
4.      Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak – obat masuk ke pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.
5.      Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavailabilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri. (somelus.wordpress)
Kontraindikasi
·         Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi injeksi intravena.
·         Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, kerana lokasi ini akan  digunakan untuk pemasangan  fistula arteri – vena (A – V shunt) pada tindakan hemodaliasis (cuci darah).
·         Obat – obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh darah vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembulah vena di tungkai dan kaki). (somelus.wordpress)
Contoh obat :
1.      Ranitidin : Mengurangi keasaman lambung pada persalinan beresiko tinggi.
2.      Petidin Hidroklorida : Untuk nyeri sedang sampai berat, analgesia obstetri
3.      Eritromisin : Digunakan pada klien yang sensitif terhadap penisilin, organismeyang resistan terhadap penisilin, sifilis, klamidia, gonorea, infeksi pernapasan, pengobatan infeksi yang  sensitif terhadap eritromisin, profilaksis dalam penatalaksanaan pecah ketuban saat kurang bulan. Juga untuk pasien yang sensitif terhadap penisilin yang membutuhkan antibiotik guna mengobati penyakit jantung dan katup jantung.
4.      Protamin Sulfat : Untuk melawan kerja heparin
5.      Fitomenadion ( Vitamin K ) : Mencegah dan mengobati hemoragi. (Banister, Claire. 2007)


LokasI
1.      Pada lengan (vena mediana cubiti / vena cephalica)
2.      Pada tungkai (vena saphenosus)
3.      Pada leher (vena jugularis) khusus pada anak
4.      Pada kepala (vena frontalis, atau vena temporalis) khusus pada anak


Persiapan Alat
1.      Handscoen 1 pasang
2.      Spuit steril 3 ml atau 5 ml atau sesuai kebutuhan
3.      Bak instrument
4.      Kom berisi kapas alcohol
5.      Perlak dan pengalas
6.      Bengkok
7.      Obat injeksi dalam vial atau ampul
8.      Daftar pemberian obat
9.      Torniquet
10.  Kikir ampul bila diperlukan


Prosedur Pelaksanaan Pemberian Obat secara Intravena
a.       Fase Orientasi
  1. Salam terapeutik
  2. Evaluasi/ validasi
  3. Kontrak
b.    Fase Kerja
1.      Siapkan peralatan ke dekat pasien
2.      Mengidentifikasi pasien dengan prinsip enam B (Benar obat, dosis,pasien, cara pemberian, waktu dan dokumentasi)
3.      Pasang sampiran atau tutup tirai untuk menjaga privasi pasien
4.      Mencuci tangan dengan benar
5.      Memakai handscoon dengan baik
6.      Posisikan pasien dan bebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian pasien
7.      Mematahkan ampul ( bila perlu menggunakan kikir )
8.      Memasukkan obat kedalam spuit sesuai dengan advice dokter dengan teknik septik dan aseptik
9.      Menentukan daerah yang akan disuntik
10.  Memasang pengalas dibawah daerah yang akan disuntik
11.  Meminta pasien untuk menggenggam tangannya dan memasang tourniquet 10-12 cm diatas vena yang akan disuntik sampai vena terlihat jelas
12.  Melakukan desinfeksi menggunakan kapas alkohol pada daerah yang akan disuntik dan biarkan kering sendiri
13.  Memasukkan jarum dengan posisi tepat yaitu lubang jarum menghadap keatas, jarum dan kulit membentuk sudut 20 ̊
14.  Lakukan aspirasi yaitu tarik penghisap sedikit untuk memeriksa apakah jarum sudah masuk kedalam vena yang ditandai dengan darah masuk kedalam tabung spuit (saat aspirasi jika ada darah berarti jarum telah masuk kedalam vena, jika tidak ada darah masukkan sedikit lagi jarum sampai terasa masuk di vena)
15.  Buka tourniquet dan anjurkan pasien membuka kepalan tangannya, masukkan obat secara perlahan jangan terlalu cepat
16.  Tarik jarum keluar setelah obat masuk ( pada saat menarik jarum keluar tekan lokasi suntikan dengan kapas alkohol agar darah tidak keluar )
17.  Rapikan pasien dan bereskan alat
18.  Lepaskan sarung tangan
19.  Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan handuk atau tissue
c.     Fase Terminasi
1.      Evalusi respon klien terhadap tindakan yang dilakukan
3.      Kontrak yang akan datang

Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1)       Oleh karena injeksi ini menakutkan klien, maka usahakan agar klien tidak menjadi takut dengan memberikan penjelasan.
2)       Perhatikan teknik aseptik dan anti septik baik pada alat-alat maupun cara kerja.
3)       Jangan salah memberikan obat atau salah memberikan kepada klien lain.
4)       Perhatikan reaksi-reaksi klien setelah dapat disuntikan dan dicatat serta laporkan.

TEORI KEPERAWATAN JEAN WATSON

Jean Watson dilahirkan pada tahun 1940-an di West Virginia. Dia lulus Bachelor of Science dalam Keperawatan Universitas Colorado di tahun 1964 dan juga Master-nya (perawatan kesehatan jiwa-mental) dan PhD (psikologi pendidikan dan konseling) pada tahun 1966 dan 1973.  DR. Jean Watson adalah distinguished profesor of nursing dan dianugrahi gelar Chair dalam peduli science di University of Colorado Health Sciences Center. Beliau adalah pendiri asli Pusat Peduli Manusia di Colorado dan merupakan mahasiswa dari American Academy of Nursing. Beliau sebelumnya menjabat sebagai Dekan KEPERAWATAN di University Health Sciences Center dan merupakan mantan presiden Liga Nasional untuk keperawatan.
Filosofi Watson tentang asuhan keperawatan berupaya untuk mendefinisikan hasil dari aktivitas yang berhubungan dengan aspek humanistik dari kehidupan. Pandangan teori ini memahami bahwa manusia memiliki empat cabang kebutuhan manusia yang saling berhubungan, diantaranya :
1)      Kebutuhan Biofisikal (kebutuhan untuk hidup)
o   Kebutuhan makan dan cairan
o   Kebutuhan eliminasi
o   Kebutuhan ventilasi
2)      Kebutuhan Psikofisikal (kebutuhan fungsional)
o   Kebutuhan aktivitas dan istirahat
o   Kebutuhan seksualitas
3)      Kebutuhan Psikososial (kebutuhan integrasi)
o   Kebutuhan berprestasi
o   Kebutuhan berorganisasi
4)      Kebutuhan Intrapersonal-interpersonal (kebutuhan untuk pengembangan)
o   Kebutuhan aktualisasi diri
Berdasarkan empat kebutuhan tersebut, Watson mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna yang memiliki berbagai macam ragam perbedaan sehingga dalam upaya untuk mencapai kesehatan, manusia seharusnya dalam keadaan sejahtera baik fisik, mental dan spiritual. Untuk mencapai kesejahteraan tersebut, keperawatan harus berperan dalam meningkatkan status kesehatan, mencegah terjadinya penyakit, mengobati berbagai penyakit, dan penyembuhan kesehatan.
Watson mengemukakan bahwa caring merupakan inti dari keperawatan. Dalam hal ini,caring merupakan perwujudan dari semua faktor yang digunakan perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan pada klien. Kemudian, caring juga menekankan harga diri individu, artinya dalam melakukan praktik keperawatan, perawat senantiasa selalu menghargai klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien. Watson juga mengemukakan bahwa respon setiap individu terhadap suatu masalah kesehatan unik, artinya dalam praktik keperawatan, seorang perawat harus mampu memahami setiap respon yang berbeda dari klien terhadap penderitaan yang dialaminya dan memberikan pelayanan kesehatan yang tepat dalam setiap respon yang berbeda.Jadi dalam hal ini perawat dituntut untuk mampu menghadapi klien dalam setiap respon yang berbeda baik yang sedang maupun akan terjadi. Selain itu, caring hanya dapat ditunjukkan dalam hubungan interpersonal, yaitu hubungan yang terjadi antara perawat dengan klien, dimana perawat menunjukkan caring melalui perhatian, intervensi untuk mempertahankan kesehatan klien dan energi positif yang diberikan pada klien. Watson juga berpendapat bahwa caring meliputi komitmen untuk memberikan pelayanan keperawatan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Dalam praktiknya, perawat ditantang untuk tidak ragu dalam menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam praktik keperawatan.
1.      Pengertian Caring Science
Caring science merupakan suatu orientasi human science dan kemanusiaan terhadap proses, fenomena, dan pengalaman human caring. Caring science, seperti juga science lainnya, meliputi seni dan kemanusiaan. Transpersonal Caring mengakui kesatuan dalam hidup dan hubungan-hubungan yang terdapat dalam lingkaran caring yang konsentrik – dari individu, pada orang lain, pada masyarakat, pada dunia, pada planet Bumi, pada alam semesta (Watson, 2004). Watson (1988) dalam George (1990) mendefinisikan caring lebih dari sebuah exisestensial philosophy, ia memandang sebagai dasar spiritual, baginya caring adalah ideal moral dari keperawatan. Manusia akan eksistensi bila dimensi spiritualnya meningkat ditunjukkan dengan penerimaan diri, tingkat kesadaran diri yang tinggi, kekuatan dari dalam diri, intuitif. Caring sebagai esensi dari keperawatan berarti juga pertanggungjawaban hubungan antara perawat-klien, dimana perawat membantu partisipasi klien, membantu memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kesehatan. Teori human caring yang dikembangkan oleh Watson antara tahun 1975-1979, hanya berkisar pada sepuluh carative factors sebagai suatu kerangka untuk memberikan suatu bentuk dan focus terhadap fenomena keperawatan. Watson menganggap istilah “factors” terlalu stagnant terhadap sensibilitasnya di masa kini. Ia pun kemudian menawarkan suatu konsep yang lebih sesuai dengan evolusi teorinya dan arahnya di masa depan. Konsep tersebut adalah “clinical caritas” dan “caritas processes”, yang dianggapnya lebih cocok dengan ide-ide dan arah perkembangan teorinya (Watson, 2004)
2.      Paradigma Keperawatan Menurut Watson Keperawatan
Keperawatan adalah penerapan art dan human science melalui transaksi transpersonal caring untuk membantu manusia mencapai keharmonisan pikiran, jiwa dan raga yang menimbulkan selfknowlegde, self-control, self-care, dan selfhealing.
Klien
Klien adalah individu atau kelompok yang mengalami ketidakharmonisan pikiran, jiwa dan raga, yang membutuhkan bantuan terhadap pengambilan keputusan tentang kondisi sehat-sakitnya untuk meningkatkan harmonisasi, self-control, pilihan dan selfdetermination.
Kesehatan
Kesehatan adalah kesatuan dan keharmonisan didalam pikiran, jiwa dan raga antara diri dengan orang lain dan antara diri dengan lingkungan.
Lingkungan
Lingkungan adalah dimana interaksi transpersonal caring terjadi antara klien dan perawat.
3.      Asumsi Dasar Science of Caring
Watson mengidentifikasi banyak asumsi dan beberapa prinsip dasar dari transpersonal caring. Watson meyakini bahwa jiwa seseorang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Watson menyatakan tujuh asumsi tentang science of caring. Asumsi dasar tersebut yaitu :
ü  Caring dapat didemonstrasikan dan dipraktekkan dengan efektif hanya secara interpersonal
ü  Caring terdiri dari carative factors yang menghasilkan kepuasan terhadap kebutuhan manusia tertentu
ü  Efektif caring meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan individu dan keluarga
ü  Respon caring menerima seseorang tidak hanya sebagai dia saat ini, tetapi juga menerima akan jadi apa dia kemudian
ü  Lingkungan caring adalah sesuatu yang menawarkan perkembangan dari potensi yang ada, dan di saat yang sama membiarkan sesorang untuk memilih tindakan yang terbaik bagi dirinya saat itu
ü  Caring lebih “healthogenic” daripada curing.
ü  Praktek caring merupakan sentral bagi keperawatan.
4.      Faktor Carrative dalam Caring
Original carative factors kemudian dikembangkan oleh Watson menjadi clinical caritas processes yang menawarkan pandangan yang lebih terbuka (Watson, 2004), yaitu :
o      Menerapkan perilaku yang penuh kasih sayang dan kebaikan dan ketenangan dalam konteks kesadaran terhadap caring.
o      Hadir dengan sepenuhnya dan mewujudkan dan mempertahankan system keperacayaan yang dalam dan dunia kehidupan subjektif dari dirinya dan orang dirawat.
o      Memberikan perhatian terhadap praktek-praktek spiritual dan transpersonal diri orang lain, melebihi ego dirinya.
o      Mengembangkan dan mempertahakan suatu hubungan caring yang sebenarnya, yang saling bantu dan saling percaya.
o      Hadir untuk menampung dan mendukung ekspresi perasaan positif dan negatif sebagai suatu hubungan dengan semangat yang dalam dari diri sendiri dan orang yang dirawat.
o      Menggunakan diri sendiri dan semua cara yang diketahui secara kreatif sebagai bagian dari proses caring, untuk terlibat dalam penerapan caring-healing yang artistik.
o      Terlibat dalam pengalaman belajar mengajar yang sebenarnya yang mengakui keutuhan diri orang lain dan berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain.
o      Menciptakan lingkungan healing pada seluruh tingkatan, baik fisik maupun non fisik, lingkungan yang kompleks dari energi dan kesadaran, yang memiliki keholistikan, keindahan, kenyamanan, martabat, dan kedamaian.
o      Membantu terpenuhinya kebutuhan dasar, dengan kesadaran caring yang penuh, memberikan “human care essentials”, yang memunculkan penyesuaian jiwa, raga dan pikiran, keholistikan, dan kesatuan diri dalam seluruh aspek care; dengan melibatkan jiwa dan keberadaan secara spiritual.
o      Menelaah dan menghargai misteri spritual, dan dimensi eksistensial dari kehidupan dan kematian seseorang, “soul care” bagi diri sendiri dan orang yang dirawat.
5.      Perilaku Caring
Daftar dimensi caring (Caring Dimensions Inventory = CDI) yang didesain oleh Watson dan Lea (1997) merupakan instrumen yang dikembangkan untuk meneliti perilaku perawat (perilaku caring). Daftar dimensi caring tersebut antara lain :
1)      Membantu klien dalam ADL
2)      Membuat catatan keperawatan mengenai klien.
3)      Merasa bersalah /menyesal kepada klien
4)      Memberikan pengetahuan kepada klien sebagai individu
5)      Menjelaskan prosedur klinik
6)      Berpakaian rapi ketika bekerja dengan klien
7)      Duduk dengan klien
8)      Mengidentifikasi gaya hidup klien
9)      Melaporkan kondisi klien kepada perawat senior
10)  Bersama klien selama prosedur klinik
11)  Bersikap manis dengan klien
12)  Mengorganisasi pekerjaan dengan perawat lain untuk klien
13)  Mendengarkan klien
14)  Konsultasi dengan dokter mengenai klien
15)  Menganjurkan klien mengenai aspek self care
16)  Melakukan sharing mengenai masalah pribadi dengan klien
17)  Memberikan informasi mengenai klien
18)  Mengukur tanda vital klien
19)  Menempatkan kebutuhan klien sebelum kebutuhan pribadi
20)  Bersikap kompeten dalam prosedur klinik
21)  Melibatkan klien dalam perawatan
22)  Memberikan jaminan mengenai prosedur klinik
23)  Memberikan privacy kepada klien
24)  Bersikap gembira dengan klien
25)  Mengobservasi efek medikasi kepada klien
Hasil penelitian Lea Amanda et all (1998) menjelaskan bahwa semua item pada CDI mempunyai korelasi positif dengan item lainnya kecuali CDI no. 3 dan 16. Untuk mengukur perilaku caring perawat, kelompok IV menyusun instrumen berdasarkan CDI 1-25. Instrumen tersebut meliputi instrument observasi dan kuesioner, yang dapat lihat pada lampiran 1 dan lampiran 2.
PROSES KEPERAWATAN DALAM TEORI CARING
Watson (1979) menekankan bahwa proses keperawatan memiliki langkah-langkah yang sama dengan proses riset ilmiah, karena kedua proses tersebut mencoba untuk menyelesaikan masalah dan menemukan solusi yang terbaik. Lebih lanjut Watson menggambarkan kedua proses tersebut sebagai berikut (tulisan yang dimiringkan menandakan proses riset yang terdapat dalam proses keperawatan) :
Pengkajian
Meliputi observasi, identifikasi, dan review masalah; menggunakan pengetahuan dari literature yang dapat diterapkan, melibatkan pengetahuan konseptual untuk pembentukan dan konseptualisasi kerangka kerja yang digunakan untuk memandang dan mengkaji masalah dan pengkajian juga meliputi pendefinisian variable yang akan diteliti dalam memecahkan masalah Watson (1979) dalam Julia (1995) menjelaskan kebutuhan yang harus dikaji oleh perawat yaitu :
  1. Lower order needs (biophysical needs) yaitu kebutuhan untuk tetap hidup meliputi kebutuhan nutrisi, cairan, eliminasi, dan oksigenisasi.
  2. Lower order needs (psychophysical needs) yaitu kebutuhan untuk berfungsi, meliputi kebutuhan aktifitas, aman, nyaman, seksualitas.
  3. Higher order needs (psychosocial needs), yaitu kebutuhan integritas yang meliputi kebutuhan akan penghargaan dan beraffiliasi.
  4. Higher order needs (intrapersonalinterpersonal  needs), yaitu kebutuhan untuk aktualisasi diri.
Perencanaan
Perencanaan membantu untuk menentukan bagaimana variable-variabel akan diteliti atau diukur, meliputi suatu pendekatan konseptual atau design untuk memecahkan masalah yang mengacu pada asuhan keperawatan serta meliputi penentuan data apa yang akan dikumpulkan dan pada siapa dan bagaimana data akan dikumpulkan.
Implementasi
Merupakan tindakan langsung dan implementasi dari rencana serta meliputi pengumpulan data.
Evaluasi
Merupakan metoda dan proses untuk menganalisa data, juga untuk meneliti efek dari intervensi berdasarkan data serta meliputi interpretasi hasil, tingkat dimana suatu tujuan yang positif tercapai, dan apakah hasil tersebut dapat digeneralisasikan.
PENUTUP
Melihat besarnya manfaat caring, seharusnya caring tercermin dalam setiap interaksi perawat dan klien, bukan malah dianggap sebagai sesuatu yang sulit diwujudkan dengan dalih beban kerja yang tinggi, atau pengaturan manajemen askep ruangan yg kurang baik. Pelaksanaan caring akan meningkatkan mutu asuhan keperawatan, memperbaiki image perawat di masyarakat dan membuat profesi keperawatan memiliki tempat khusus di mata para pengguna jasa pelayanan kesehatan, bukan hanya sebagai pelengkap penderita.
Pembahasan di atas telah menunjukkan bahwa teori caring yang dikemukakan oleh Watson menekankan akan kebutuhan klien secara jasmani dan kebutuhan pendekatan spiritual bagi iman klien. Dengan demikian, perawat dituntut untuk mengenal dirinya sendiri secara spiritual dan menerapkannya dalam profesi keperawatan dalam memberikan perawatan dengan cinta dan caring. Jadi, dari teori caring menurut Watson dapat disimpulkan bahwa adanya keseimbangan antara aspek jasmani dan spiritual dalam asuhan keperawatan.
Katy Perry-Firework